Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah 4 Mindset yang Menghambat Orang Menjadi Kaya

Inilah 4 Mindset yang Menghambat Orang Menjadi Kaya

Sudah kerja keras, sudah berjuang, sudah berhemat, sudah nabung, sudah melakukan banyak hal baik. Tapi tetap saja hidup cuman kayak gini aja.

Ingin kaya tapi sebaliknya yang terjadi. Apa yang salah? Coba kamu evaluasi mindset-mu. Selama kamu masih punya 4 mindset ini, selama itu apapun yang kamu lakukan tidak banyak mengubah hidupmu.

Kamu akan tetap ada pada kondisi sekarang. Kamu akan sulit menjadi kaya. Apa saja sih mindset yang menghambat banyak orang menjadi kaya itu? Yuk baca terus sampai selesai ya.

Mindset yang Menghambat Orang Menjadi Kaya

1. Hemat pangkal kaya

Jika kamu masih percaya dengan pepatah ini, maka bersiap-siaplah kamu menderita. Kamu sudah berhemat setiap hari, mengurangi sebanyak-banyak pengeluaran, hidup sangat sederhana, kamu sudah nabung.

Intinya apapun sudah kamu lakukan deh, hidupmu sangat sangat anti dari foya-foya tapi kenapa kok nggak banyak berubah? Katanya hemat pangkal kaya.

Ini masalahnya, bukan hemat yang membuat kita kaya tapi hemat adalah langkah awal untuk menjadi kaya, artinya ada step berikutnya.

Jika kamu hanya berhenti pada hemat, ini berbahaya. Bisa jadi kamu nggak berhemat tapi justru memancarkan vibrasi kekurangan.

Kamu merasa kurang, kamu merasa nggak cukup, kamu selalu merasa sangat-sangat menderita. Ketika teman-temanmu bisa jalan-jalan, kamu hanya nonton dan kamu akan melakukan itu tapi kamu berpikir "Aduh sayang uangnya."

Ketika teman-temanmu membeli makanan, kamu pun hanya bisa melihat dengan mengatakan "Janganlah uangnya ditabung." Tanpa sadar pada saat itu kamu memancarkan vibrasi kurang, vibrasi miskin dan ini penghambatnya.

Lantas apakah hemat itu salah? Nggak, hemat itu penting, hemat itu wajib. Tapi hemat itu bukan tujuan akhir namun langkah awal.

Selain itu ketika kita berhemat, kita harus melakukan dengan vibrasi yang benar. Jika tidak, hemat tidak akan berdampak baik.

Hemat itu langkah awal. Setelah kita berhemat, step berikutnya kita nabung. Setelah itu kita ubah tabungannya menjadi investasi. Barulah di sini kita bisa menjadi kaya. Artinya bukan hemat pangkal kaya tapi investasi pangkal kaya.

Itu prinsip berikutnya yang harus kita anut. Jika kamu hanya berhenti pada fase hemat pangkal kaya, ini hanya fase awal.

Lantas bagaimana vibrasi yang kita bawa ketika kita berhemat? Contohnya begini, ketika ada teman-teman kamu mengajak nongkrong, jalan-jalan dan lain sebagainya, pertama yang harus kita lakukan adalah ini sesuai nggak dengan budget, ini sesuai nggak dengan target saya, ini relevan nggak.

Ketika semuanya tidak, maka tolaklah semuanya. Bagaimana jika kita punya rasa ingin, kita punya rasa iri, maka katakan pada diri sendiri, oke hari ini saya berpuasa. Saya sedang beribadah. Saya sedang berjuang di jalan Allah.

Jangan merasa "Aduh kok sayang ya mau ngeluarin uang nanti uangnya habis. Saya pengin seperti itu tapi saya harus terima kalau saya nggak hemat, berbahaya nanti malah uang saya habis." Jangan seperti itu.

Jangan kamu berhemat karena takut uangmu habis, tapi berhematlah karena kamu menganggap ini jihadmu, ini ibadah, ini jalan yang kamu pilih agar Allah meridhoimu.

Jadi lakukan proses hemat itu dengan niat ibadah, dengan niat seperti kita berpuasa. Jika kita berpuasa kita menahan diri dari makan dan minuman maka kita berhemat kita menahan diri dari hasrat belanja. Ini juga ibadah. Kalau diniatkan dengan baik, Insya Allah ini akan membawa kebaikan.

2. Kaya itu butuh kerja keras

Mindset berikutnya yang membuat banyak orang gagal untuk bertumbuh menjadi kaya adalah ketika dia menganggap kaya itu butuh kerja keras.

Jika sumber menjadi kaya adalah kerja keras, berapa banyak sih orang yang sudah kerja keras pagi, malam, siang, sore tapi hidupnya nggak banyak berubah?

Bukan kerja keras yang bikin kita kaya, tapi lebih produktif-lah yang bikin kita kaya. Bukan berapa banyak waktu yang kamu gunakan untuk bekerja, bukan apa yang kamu lakukan ketika bekerja, tapi berapa banyak hal yang kamu hasilkan ketika kamu bekerja.

Jika dalam sehari teman-teman kamu hasilkan 10, coba pikirkan bagaimana dalam waktu yang sama, yakni sehari, kamu bisa menghasilkan 100.

Jika teman-temanmu dalam sehari menghasilkan 1 juta, bagaimana kamu juga berpikir bagaimana caranya dalam waktu 1 hari saya menghasilkan 10 juta.

Berpikir untuk menjadi lebih produktif, bertindak untuk menjadi lebih produktif, berbuat untuk menjadi lebih produktif itu jauh lebih penting.

Ketika kerja keras ukurannya hanya waktu, pikiran, dan tenaga. Jika kamu bekerja 8 jam kemudian kamu menambahnya menjadi 10 jam, kadang kita menganggap itu sebagai ukuran kerja keras padahal enggak.

Lebih produktif artinya kita bekerja lebih efisien dengan waktu yang sedikit bisa menghasilkan lebih banyak, dengan biaya yang sedikit bisa menghasilkan lebih banyak.

Kita bekerja lebih efektif, kita bisa mencapai target sesuai dengan apa yang kita inginkan. Artinya bekerja lebih produktif terkait dengan cara kita mengatasi distraksi yang ada di sekitar kita, kita bisa aware terhadap sekitar, terhadap target, terhadap pencapaian, terhadap diri dan terhadap hambatan yang ada di sekitar kita.

Banyak orang memang bekerja 8 jam sehari, 10 jam sehari, bahkan 12 jam sehari. Tapi dalam 12 jam itu ada begitu banyak distraksi yang membuat hasil pekerjaan dia nggak sebaik yang seharusnya.

Harusnya dia bisa selesai mungkin dalam waktu 6 jam tapi karena terlalu banyak distraksi jadinya dia butuh menyelesaikan dalam waktu 12 jam.

Cek ada di mana level produktif kamu, coba tanyakan seberapa efektif kamu bekerja, seberapa efisien kamu melakukan sesuatu.

Jika ternyata kamu belum bekerja dengan efektif dan belum efisien, artinya harus ada yang diperbaiki. Berpikirlah untuk selalu lebih produktif, menghasilkan lebih banyak, dan berkarya lebih berkualitas.

Jangan hanya fokus pada bekerja keras, pada menukarkan waktu, pikiran, dan tenaga, tapi fokuslah pada menghasilkan lebih banyak, lebih bermanfaat, dan lebih berkualitas.

3. Berani mengambil risiko

Banyak orang menganggap salah satu mindset yang harus dimiliki orang-orang yang ingin sukses adalah kita harus berani mengambil risiko.

Ini agak konyol, bukan kita harus berani mengambil risiko tapi kita harus berani mengambil peluang. Kalau kita hanya fokus pada berani mengambil risiko, yaitu mirip seperti kamu naik motor tanpa berpikir jangka panjang, sudah tahu di depan ada lawan tapi kamu tetap mendahului motor yang ada di depanmu dan ini risikonya terlalu besar.

Sementara orang yang berpikir pada peluang, dia benar-benar fokus apakah peluangnya besar atau tidak. Dalam setiap peluang pasti ada risiko, maka risiko itu harus kita deteksi. Kita harus meminimalisir risiko dengan fokus pada peluang.

Orang-orang yang fokus pada risiko mereka tuh punya model naik drastis, sukses, kemudian tiba-tiba terjun bebas jauh ke bawah karena mereka hanya memikirkan risiko.

Oke, kita harus berani mengambil risiko, tapi harusnya kita itu berani mengambil peluang dengan meminimalisir risiko.

Setiap bisnis itu punya peluang, di dalamnya juga pasti ada risiko. Orang-orang yang berani mengambil peluang dengan memperhatikan risiko mereka akan lebih realistis, mereka akan lebih well-prepared.

Sementara ketika kita hanya berkata "saya harus berani mengambil risiko," kadang yang kita lakukan nekat, nggak persiapan maka potensi gagalnya jauh lebih besar.

Dalam setiap tindakan pasti ada risiko, itu benar, tapi ketika kita fokus pada peluang dengan berupaya untuk meminimalkan risiko, maka kita akan membuat perencanaan dengan lebih baik, akan membuat persiapan lebih baik, dan akan membuat tindakan yang jauh lebih baik.

4. Jangan berorientasi pada uang

Mindset ke-4 yang harus kita ubah adalah jangan berorientasi pada uang, tapi berorientasilah pada value, pada nilai.

Jika kita hanya fokus pada uang, kemudian kita mengorbankan banyak hal berharga dalam hidup kita, di titik ini mungkin kamu bisa dapat uang tapi belum tentu kamu bisa dapat bahagia.

Sementara ketika kita fokus pada value, pada nilai, pada manfaat, pada berkah, kita akan dapat uangnya. Kita akan dapat bahagianya dan kita akan dapat keberkahannya.

Orang-orang yang terlalu fokus pada uang kadang mereka lupa dengan aturan, mereka lupa dengan nilai, mereka nggak serius dalam menjaga diri dan menghargai orang lain, yang penting uang.

Ya kita semua butuh uang, uang adalah salah satu indikator untuk membangun kekayaan tapi uang bukan segalanya.

Ketika kita fokus pada value, fokus pada nilai dan kita percaya pada nilai itu, pelan namun pasti kekayaan itu dapat kita bangun.