Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rahasia Sukses, Kapan Harus Bersikap Masa Bodoh dan Kapan Harus Mendengarkan Orang Lain

Rahasia Sukses: Kapan Harus Bersikap Masa Bodoh dan Kapan Harus Mendengarkan Orang Lain?

Terkadang bersikap masa bodoh terhadap orang-orang di sekitar kita itu penting. Kemampuan untuk bersikap dengan tepat, kapan kita harus cuek dan kapan kita harus membuka diri, sangat menentukan kesuksesan kita.

Orang-orang yang punya kemampuan bersikap masa bodoh secara proporsional memiliki peluang lebih besar untuk sukses dibandingkan dengan orang-orang yang terlalu terbuka dan mendengarkan omongan orang lain yang belum tentu benar.

Dalam artikel kali ini, kami ingin mengajak kalian semua untuk menata ulang kapan kita harus bersikap masa bodoh dan kapan kita wajib membuka diri agar kita lebih mudah membangun kesuksesan.


Sikap Masa Bodoh

Ada tiga prinsip yang harus kita pegang agar kita mampu bersikap cuek dan bersikap masa bodoh secara tepat.

1. Kamu harus kenal siapa dirimu

Jika kita sudah benar-benar tahu siapa kita, apa kelebihan kita, dan apa kekuatan kita, maka ketika ada orang-orang yang nyinyir terhadap kelebihan kita, abaikan saja.

Mereka tidak benar-benar mengenal kita, jadi ketika kita mendengarkan orang-orang yang tidak mengenal kita, kita menjadi orang yang paling rugi. 

Yang paling tahu siapa kita adalah diri kita sendiri. Jadi, sebelum memutuskan untuk cuek atau tidak, pastikan kita sudah benar-benar kenal siapa diri kita.

2. Kita harus punya mimpi

Kita harus punya mimpi dan tujuan besar yang ingin benar-benar kita capai. Mimpi dan tujuan itu layak untuk diperjuangkan. 

Setelah kita tahu kekuatan kita dan tahu mimpi kita, ketika ada orang yang mencoba menghambat mimpi itu dengan kata-kata negatif, kita wajib mengabaikannya.

Jadikan pengenalan diri dan tujuan hidup sebagai filter untuk membantu kita bersikap masa bodoh.

3. Kita tidak merugikan orang lain

Selama tindakan kita tidak merugikan orang lain, dan selama apa yang kita lakukan tidak menyulitkan dan mengganggu orang lain, bersikap masa bodoh itu sah-sah saja.

Misalnya, jika kamu menggunakan waktumu untuk membaca sebuah buku, pertanyaannya adalah apakah membaca buku ini merugikan orang lain?

Jika tidak, lanjutkan saja, walaupun ada teman-temanmu yang mungkin nyinyir dan mengatakan, "Ah, kamu sok pintar baca buku." Kamu tidak perlu memperdulikan mereka.

Ketika kamu mulai membuat sebuah proyek, seperti mendesain atau membuat rencana, dan kemudian orang-orang mengkritikmu dengan komentar negatif, pertanyaannya adalah apakah itu waktu untuk main atau waktu untuk ngobrol? 

Apakah tindakanmu yang fokus pada apa yang kamu lakukan akan merugikan orang lain? Dengan selalu bertanya apakah tindakan kita ini merugikan orang lain atau tidak, kita bisa tetap fokus. Jika tidak ada yang dirugikan, maka lanjutkan saja. 

Mungkin orang-orang merasa tidak nyaman karena mereka merasa kehilangan kamu sebagai teman, atau mereka merasa kamu tidak lagi sejalan dengan mereka. Tapi ini hidupmu, bukan hidup mereka.

Lantas, kepada siapa kita harus bersikap masa bodoh? Apakah kita harus cuek terhadap semua orang

Tentu saja tidak. Ada orang-orang yang memang harus kita dengarkan, dan ada yang memang tidak perlu kita pedulikan.


Siapa yang wajib kita abaikan?

Orang-orang yang gagal

Ada kalanya orang-orang di sekitar kita yang mengalami kegagalan akan bercerita tentang kegagalan yang mereka alami. 

Kemudian, ketika mereka tahu kita melakukan hal yang sama, mereka mungkin mengatakan, "Bisnis itu sulit, saya sudah pernah mencoba dan saya gagal." 

Nasehat dari orang-orang gagal, terutama jika mereka tidak mau bangkit lagi dan menganggap kegagalan itu sebagai akhir, maka tidak perlu kita dengarkan. 

Cukup dengarkan mengapa mereka gagal, tapi tidak usah mendengarkan nasehat mereka yang membuat kamu berhenti.

Jika bertemu dengan orang-orang yang gagal, lebih baik kamu bertanya mengapa mereka gagal, daripada mendengarkan nasehat mereka yang membuat kamu putus asa.

Orang-orang yang tidak kompeten

Misalnya, jika kamu seorang desainer dan membuat sebuah desain, lalu ada orang-orang yang berkomentar negatif terhadap desainmu, pertanyaannya adalah apakah mereka punya kompetensi untuk menilai karyamu? 

Jika tidak, maka mengabaikan mereka adalah tindakan yang tepat, kamu hanya perlu mendengarkan orang-orang yang kompeten atau customer kamu. 

Jika desainmu memang ditujukan untuk customer dan mereka memberikan komentar, maka kamu harus mendengarkan. 

Namun, jika mereka yang berkomentar bukan customer kamu dan bukan orang-orang yang kompeten, abaikan saja.

Orang-orang yang tidak satu visi

Jika kamu punya visi yang berbeda dengan teman-temanmu, ada kalanya mereka akan menghambat karena mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Di titik ini, kamu bisa diam dan tidak perlu merespons mereka, cukup abaikan saja.


Siapa yang harus kita dengarkan?

Orang-orang yang berpengalaman dan terbukti berhasil

Nasehat dari orang-orang yang berpengalaman dan terbukti berhasil perlu kita dengarkan karena mereka telah berjuang untuk meraih kesuksesannya.

Para customer kita

Customer kita atau orang-orang yang menggunakan layanan kita, yang menerima manfaat dari karya kita, perlu kita dengarkan karena mereka akan memberikan feedback yang baik.

Satu hal penting yang harus kita cermati adalah bahwa tidak mungkin semua orang akan suka pada kita.

Sebaik apa pun kita berusaha, selalu ada orang-orang yang tidak suka, yang nyinyir, dan memberikan komentar negatif. Untuk hal ini, abaikan saja.


Hal terpenting yang harus kita ingat, kamu harus kenal siapa kamu, kamu harus punya tujuan yang jelas, pastikan tindakanmu tidak merugikan orang lain.

Jika ketiga prinsip ini sudah kita pegang, maka kita bisa memilah-milah siapa yang wajib kita dengarkan dan siapa yang tidak.

Catatan penting lainnya, kadang hambatan terbesar itu datang dari sekitar kita, dari orang-orang terdekat kita. 

Mereka mungkin khawatir, takut kalau kita gagal, dan tidak tega melihat kita menderita. Tapi mereka mungkin lupa cara mendukung kita.

Ketika ada orang-orang yang mencintaimu dan terlalu khawatir dengan apa yang kamu lakukan, kamu perlu memberi pemahaman kepada mereka. Jika mereka tetap tidak paham, cukup katakan, "Udah, doakan saja. Saya butuh support kamu."

Dengan cara ini, pada orang-orang yang mungkin belum mengerti visi kita, kita butuh untuk tetap berbuat baik pada mereka. 

Kita butuh untuk selalu mendapatkan dukungan mereka dengan caranya. Kalau mereka tetap tidak setuju, abaikan saja, tapi kita tetap wajib berbuat baik padanya.


Ketika kita mampu bersikap masa bodoh, bersikap cuek dengan cara yang proporsional, di titik itu kita sedang menjaga fokus kita. 

Distraksi terbesar sering kali bersumber dari orang-orang di sekitar kita, dari nyinyiran orang-orang yang dekat dengan kita. Jika kita mampu memfilternya, maka sukses hanya tinggal menunggu waktu.