Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hati-hati Dengan Prasangka Karena Ini Bisa Menghambat Hidupmu!

Jika kamu merasa bahwa kamu adalah keledai walaupun kamu diberi setumpuk emas dan setumpuk jerami, maka kamu pasti akan memilih jerami.

Jika kamu merasa bahwa kamu adalah pecundang, kalaupun ada 100% kesempatan bisnis yang dijamin berhasil, kamu akan tetap menghindarinya karena kamu menganggap "Saya pasti gagal".

Jika kamu merasa bahwa kamu tak pantas, tak mampu, tak kompeten, ada 1000 orang sekalipun mengatakan bahwa kamu bisa, kamu mungkin akan menolaknya. 

Kamu tetap yakin bahwa kamu tidak pantas sehingga kamu tidak berbuat apa-apa. Inilah kekuatan prasangka. 

Prasangka itu ada di otak kita dan kadang itulah yang menjadi penjara untuk diri kita. Hati-hatilah dengan prasangka.

Ketika kita berprasangka negatif terhadap diri kita, terhadap orang lain, bahkan terhadap Tuhan, maka hidup kita pasti kacau. 

Karena prasangka itu adalah penjara yang sebenarnya pintunya itu terbuka lebar, hanya kita saja yang menganggap semuanya tertutup.

Hati-hati Dengan Prasangka Karena Ini Bisa Menghambat Hidupmu!
Foto: freepik

Ketika kamu menganggap dirimu sakit, kamu tidak bisa berbuat apa-apa, kamu merasa sakit seluruh badanmu, kamu merasa ingin diperhatikan.

Ketika kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang sangat tidak layak, maka apa yang kamu lakukan? Kamu memilih untuk diam.

Kalaupun misalnya kamu sedang jatuh cinta dan mencintai seseorang yang menurut kamu cantik dan baik, tapi kamu merasa kamu tidak layak untuk dia.

Maka yang kita lakukan adalah kita akan pergi menghindar. Bisa jadi orang yang kita cintai itu memang mencintai kita juga.

Tapi karena kita merasa tidak pantas, dia sudah lama menunggu dan akhirnya dia memilih orang lain karena orang yang ditunggu itu tidak punya keberanian untuk datang. Inilah kekuatan prasangka.

Prasangka itu menghambat, prasangka itu memenjara, prasangka itu membuat kita tersiksa. Kenapa sih prasangka itu menjadi sesuatu yang sangat berbahaya?

Karena ketika kita berprasangka tentang sesuatu, lima elemen terpenting dalam diri kita akan terlibat: imajinasi, sikap, keyakinan , emosi atau perasaan, dan terakhir tindakan kita.

Coba bayangkan jika prasangkamu negatif, imajinasi kita negatif, perasaan kita negatif, keyakinan kita negatif, sikap kita negatif, dan terakhir tindakan kita juga negatif. Maka tidak usah heran kalau prasangka itu punya kekuatan yang sangat besar.


Ketika seseorang berprasangka bahwa bisnis itu berisiko, "lebih baik saya menjadi pekerja", maka prasangka ini membuat kita terjebak pada imajinasi bahwa bisnis itu penuh dengan risiko.

Kita membayangkan risiko-risiko yang muncul di otak kita ada begitu banyak visualisasi kegagalan bisnis yang mungkin terjadi.

Andaikata kita mengambilnya kemudian muncul rasa takut di dalam diri kita, kita takut kalau itu terjadi, "Ah, ini akan semakin membuat saya sulit."

Akhirnya muncul satu sikap dan penilaian, "Sudahlah, daripada saya melakukan sesuatu yang berisiko, lebih baik saya jalani ini saja yang penting saya bersyukur."

Akhirnya kita membangun sikap negatif terhadap bisnis, kemudian menumbuhkan sikap positif terhadap status kita sebagai pekerja.

Kemudian belief system kita juga akan terbangun bahwa bisnis itu berbahaya, bisnis itu berisiko, dan "Saya kalau mengambilnya artinya saya sedang menjatuhkan diri saya dalam bahaya."

Akhirnya kita akan memilih setia dengan pekerjaan kita. Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang menganggap menjadi pekerja itu tidak baik, lebih baik membangun bisnis, maka dia akan mengikuti itu semua.


Prasangka bahwa bisnis itu baik membuat dia berimajinasi baik. Keuntungan yang akan dia dapat, senangnya punya perusahaan, senangnya memimpin, senangnya punya kekayaan.

Imajinasi-imajinasi muncul karena memang bagian dari prasangka adalah imajinasi. Kemudian keyakinan dia juga akan tertanam bahwa bisnis itu sesuatu yang baik untuk hidupnya.

Begitu juga dengan sikapnya, dia akan bersikap positif bahwa dengan membangun bisnis hidupnya akan lebih baik.

Akhirnya perasaannya juga merasa nyaman, dia senang, dia bahagia ketika menekuni bisnisnya dan akhirnya tindakannya juga akan jauh lebih baik.

Maka di titik ini kalau kita paham dan sadar bahwa prasangka selalu meliputi lima aspek dalam hidup kita mulai dari imajinasi, sikap atau penilaian, emosi atau perasaan, rasa suka dan tidak, nyaman dan tidak.

Kemudian di dalamnya juga ada belief system kita dan yang terakhir ada tindakan kita. Maka setiap prasangka selalu diikuti dengan tindakan. 

Ketika prasangka kita baik, potensi tindakan kita juga baik. Namun sebaliknya jika prasangka kita negatif, maka tindakan kita juga negatif.


Contoh lain misalkan ketika kamu berprasangka bahwa orang yang ada di sampingmu adalah seorang pencopet, maka apa yang ada dalam imajinasimu?

Tentu kamu akan membayangkan kalau tas kamu hilang bagaimana, akhirnya kamu akan punya sikap berhati-hati pada orang tersebut.

Kita akhirnya punya keyakinan bahwa orang ini brengsek, orang ini berbahaya. Akhirnya tindakan kita, kita akan sangat waspada, kita akan sangat hati-hati. Di titik inilah bahayanya prasangka. 

Jadi mari kita kenali prasangka kita, jangan terjebak pada prasangka negatif. Bangunlah prasangka yang positif yang baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap kehidupan dan terhadap Tuhan.