Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ingin Sukses? Hindari Bias Aksi dengan 3 Langkah Mudah Ini!

Ingin Sukses? Hindari Bias Aksi dengan 3 Langkah Mudah Ini!

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi kok hasilnya biasa-biasa saja, sudah melakukan segala cara dan semua hal dicoba tapi rasanya percuma. 

Sudah kerja keras banting tulang siang malam tapi rasanya pencapaiannya biasa-biasa, lantas apa sih yang salah?

Jika kamu pernah merasa seperti itu maka berhati-hatilah karena jika kamu terus membiarkannya semua upayamu, usahamu, bahkan kerja kerasmu semua akan menghasilkan sesuatu yang seolah percuma.

Lantas kenapa kondisi itu terjadi, kenapa situasi ini bergulir, jawabannya adalah mungkin kamu sedang terjebak pada apa yang namanya "bias aksi".

Siapapun kamu, jika kamu terjebak pada bias aksi, kerja kerasmu, usahamu, seolah tidak akan ada gunanya.

Percaya atau tidak, bias aksi itu sesuatu yang sangat berbahaya. Lantas apa sih bias aksi itu, terus apa ciri seseorang bahwa dia sedang terjebak pada bias aksi dan bagaimana solusinya?


Apa itu Bias Aksi?

Pepatah mengatakan diam itu emas, rasanya pepatah ini sangat relevan untuk menggambarkan fenomena biasa aksi.

Ketika diammu jauh lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan semua tindakanmu atau ketika diammu jauh memberikan kebaikan jika dibandingkan dengan kata-kata yang kamu ucapkan maka inilah bias aksi.

Ketika diam jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tindakan atau dengan kata lain ketika apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan itu justru membawa keburukan. Di titik itulah kita sedang terjebak pada bias aksi.

Ada banyak contoh yang ada di sekitar kita yang menunjukkan fenomena bias aksi. Misalnya seseorang yang ingin menjadi pengusaha namun tindakannya justru sibuk melamar pekerjaan ke sana kemari.

Ingin kaya tapi tindakannya justru selalu berhura-hura, ingin lanjut kuliah S2 tapi yang dilakukan waktunya terbuang percuma karena nongkrong semata.

Atau mungkin ketika kamu menyampaikan, "Aku pingin hidup sehat" tapi justru perilakumu sangat berbeda. Kamu sangat sering bergadang, makan sembarangan, malas olahraga, dan sejenisnya.

Semua contoh itu menggambarkan kalau kamu sedang melakukan tindakan biasa aksi. Ada beberapa ciri ketika kamu melakukan tindakan biasa aksi.


Ciri Ciri Bias Aksi

1. Ketika tindakan atau kata-katamu itu tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan

Jika kamu bertindak tanpa ilmu, maka yang terjadi adalah kerusakan. Jika kata-katamu tanpa dasar, maka yang tersaji mungkin kebohongan. Di titik ini lebih baik kamu diam karena ini lebih punya manfaat.

Mungkin selama ini yang membuat kerja kerasmu seolah percuma, semua usahamu seolah sia-sia karena semuanya kamu lakukan tanpa dasar ilmu yang kuat, tanpa dasar pengetahuan, tanpa dasar keterampilan, dan memang kamu tidak punya pengalaman.

Akhirnya kamu memang sibuk, tapi hasilnya tidak seberapa karena memang tindakanmu tidak berkualitas.

2. Ketika tindakanmu dan tujuanmu tidak sejalan

Misalnya, kamu ingin pergi ke Surabaya sedangkan kamu tinggal di kota Semarang, bukannya berangkat ke arah timur, tapi justru sebaliknya kamu pergi ke arah barat.

Kamu berkendara sepanjang hari, tapi kamu merasa "Kok tidak nyampe-nyampe ya", ya wajar kamu tidak sampai karena memang kamu salah arah.

Kamu bertindak, kamu melakukan sesuatu, tapi kamu tidak dapat hasil karena memang apa yang kamu lakukan dengan tujuanmu sangat berbeda.

Misalnya kamu ingin membangun sebuah bisnis, tapi tindakanmu justru sibuk melamar kerja, ini namanya bias aksi.

3. Jika kamu bertindak tanpa tujuan

Punya tujuan dan kemudian melakukan tindakan yang berbeda saja sudah bias aksi. Terlebih jika kamu punya tindakan, tapi tidak punya tujuan yang jelas.

Kamu sibuk ke sana kemari, tapi pencapaianmu nol besar karena memang kamu tidak punya target yang jelas.

Ada kalanya seseorang hari ini bekerja A, tahun depan bekerja B, tahun depannya lagi bekerja C, terus seperti itu mereka berganti pekerjaan dari masa ke masa.

Karena memang mereka tidak punya tujuan yang jelas, sehingga walaupun mereka bekerja keras siang malam seolah-olah melakukan banyak hal, tapi pencapaian mereka biasa-biasa saja karena memang mereka tidak punya target yang jelas yang ingin dibangun.


Kenapa Banyak Orang Terjebak Bias Aksi?

Banyak orang tidak suka dikatakan pemalas, banyak orang tidak suka dikatakan jika dia tidak berbuat sesuatu.

Mereka ingin tampil keren, ingin dihargai dengan semua tindakannya dan meskipun mereka tahu tidak punya ilmunya, namun mereka terus saja bertindak tidak peduli dengan apapun hasilnya.

Fenomena bias aksi ini sangat banyak ada di sekitar kita. Contohnya, apa yang dilakukan oleh para pemimpin baru. 

Mereka itu ingin terlihat keren, ingin terlihat bekerja, kemudian mereka membuat program dengan membuang semua program lama.

Mereka menganggap apa yang sudah dilakukan kemarin itu seolah-olah buruk, dan mereka ingin mengganti dengan yang lebih baik.

Padahal sebenarnya tidak harus seperti itu, harusnya dia melihat apa yang baik untuk dilanjutkan dan yang buruk untuk disempurnakan.

Ketika kita asal bekerja tanpa pernah memahami apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya dan apa yang akan menjadi targetnya, di titik inilah potensi bias aksi itu terjadi.

Alasan terbesar karena mereka ingin dianggap keren, melakukan sesuatu itu jauh lebih bermakna dan berharga jika dibandingkan hanya sekedar melanjutkan atau diam semata.


Cara Lepas dari Bias Aksi

Agar kamu tidak terjebak pada bias aksi, maka sebelum kamu melakukan sesuatu, kamu harus sadar apa tujuan dari tindakanmu.

Kita harus sadar apa manfaat dari semua ini, kita juga harus mawas diri apakah apa yang kita lakukan ini benar-benar mampu kita lakukan.

Apakah kamu punya keterampilannya, kamu punya ilmunya atau kamu punya pengetahuannya. Pendek kata, evaluasi kompetensi kita.

Jika merasa tidak kompeten, belajarlah terlebih dahulu baru kemudian bertindak, atau jika kamu merasa tindakanmu dan mungkin kata-katamu itu tidak berguna bahkan menyakiti orang lain, maka di titik ini diam jauh lebih baik.

Cara lain untuk bisa lepas dari bias aksi adalah jadilah pengamat. Coba kamu mengamati semua tindakanmu, semua kata-katamu.

Kamu juga bisa menjadi pengamat bagi orang-orang di sekitarmu, bagi lingkunganmu. 

Kamu harus punya kesadaran kamu ada di mana dan harus berbuat apa. Dengan menjadi seorang pengamat, kita bisa jauh lebih efektif dan efisien dalam bertindak.

Ada kalanya diam itu jauh lebih baik, tidak melakukan sesuatu bukan berarti kamu menyia-nyiakan sesuatu.

Kadang diam kita untuk menganalisis, diam kita untuk mencari momentum itu jauh lebih baik untuk kita ambil.

Kesabaran yang menjadi dasar untuk bertindak ini adalah kunci agar kita tidak terjebak pada bias aksi, agar kita mampu melakukan tindakan terbaik yang membawa manfaat bukan merugikan.


Ketika kita mampu mengendalikan diri maka kita tidak mudah terpancing oleh lingkungan, sehingga kita tidak melakukan tindakan yang sia-sia. Di titik ini, kadang diam menjadi solusi sebelum melakukan sebuah tindakan.

Sekali lagi, pertimbangkanlah sebelum mengambil keputusan, pertimbangkanlah sebelum berbicara, dan pertimbangkanlah sebelum bertindak. Tetap tenang dalam mengambil keputusan merupakan jalan terbaik.