Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesalahan Finansial yang Mengintai di Setiap Usia, Bisakah Dihindari?

Setiap usia punya tantangan tersendiri dari sisi finansial, mereka punya potensi melakukan keputusan-keputusan salah yang kemudian berakibat panjang dalam hidupnya.

Mereka yang ada di usia 20-an potensi kesalahannya berbeda dengan mereka yang ada di usia 30. Begitu juga dengan mereka yang ada di usia 40 dan 50, mereka punya tantangan sendiri yang pastinya juga berbeda.

Dalam artikel ini kami akan membahas kesalahan-kesalahan yang sering diambil oleh mereka berdasarkan kelompok usia dari sisi pengambilan keputusan finansial.

Kesalahan Finasial Pada Setiap Usia

Usia 20-30

Kesalahan Finansial yang Mengintai di Setiap Usia, Bisakah Dihindari?

Mereka yang ada di usia 20 sampai dengan 30 tahun adalah mereka yang baru saja menyelesaikan pendidikan dan kemudian mulai memasuki dunia kerja.

Di fase ini mereka mulai berpenghasilan, mereka mulai merasakan apa yang namanya punya income. Mereka merasa senang, happy, dan di sini mereka punya kecenderungan untuk mencoba hal-hal baru.

Jika selama sekolah ataupun kuliah mereka punya keterbatasan finansial karena mengandalkan kiriman dari orang tua, maka ketika mereka mulai bekerja dan punya uang mereka ingin melakukan sesuatu yang selama ini belum pernah mereka coba ketika mereka kuliah.

Akibatnya mereka punya potensi melakukan beberapa kesalahan dalam proses pengambilan keputusan finansial. Kesalahan terbesar dan punya pengaruh besar adalah mereka tidak punya tujuan finansial.

Kadang gaji pertama mereka habiskan dalam satu atau dua hari, atas nama bersyukur mereka mentraktir semua teman-temannya.

Mereka melakukan hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka lakukan, akhirnya baru seminggu gaji sebulan sudah habis.

Ketika ketemu teman kemudian teman-teman mengatakan "Mana nih traktiran gaji pertama" dan kemudian mereka pun melakukannya, akhirnya di sinilah kesalahan mereka.

Walaupun memang benar kita harus bersyukur atas gaji yang kita terima, tapi tidak seperti itu juga caranya. Kita harus punya perencanaan finansial yang jelas.

Ini juga salah satu kesalahan berikutnya, selain mereka tidak punya visi finansial yang jelas, mereka juga tidak pernah melakukan perencanaan. Akhirnya mereka tidak punya anggaran yang jelas.

Di sini kadang kita sering mendengar bahwa ketika seseorang sedang bujang belum menikah biasanya uangnya cepat habis, tidak ada bujangan yang kaya karena memang mereka sulit untuk mengelola uang.

Masalah terbesarnya bukan menikah atau tidak, namun kesalahan yang sering terjadi di usia 20 sampai 30 tahun mereka tidak punya perencanaan keuangan yang konkret, mereka juga tidak punya visi finansial yang jelas.

Ketika kita menjalani hidup tanpa visi finansial, tanpa rencana finansial yang jelas, tanpa anggaran yang jelas maka kita punya kecenderungan untuk menggunakan uang kita mengikuti apa yang menjadi keinginan kita.

Padahal keinginan belum tentu adalah sesuatu yang benar-benar baik untuk hidup kita. Hidup tanpa tujuan finansial dan juga tanpa rencana finansial membuat kita sangat mudah menghabiskan uang kita di hari ini.

Dapat hari ini maka habis hari ini, dapat bulan ini juga habis bulan ini, kita tidak menyisakan untuk bulan depan bahkan untuk tahun depan.

Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh mereka di usia 20 sampai 30 tahun adalah mereka lupa melakukan investasi. Akhirnya sebagian besar uang mereka habis untuk hal-hal yang mungkin tidak mereka butuhkan.

Mereka cenderung konsumtif, mereka membeli apa yang ingin mereka beli karena memang mereka baru saja bekerja dan baru saja memegang uang. Mereka ingin terlihat hebat, ingin terlihat keren bahkan kadang mereka terjebak pada hutang konsumtif.

Mengikuti gaya hidup adalah hal yang paling sering mereka lakukan, apa yang menjadi tren kekinian itulah yang ingin mereka ikuti.

Jadi ketika kamu ada di usia 20 atau 30 tahun hari ini berhati-hati, mulai susun rencana keuangan, mulai miliki visi finansial yang jelas, buat anggaran yang jelas dan jangan terjebak pada hutang konsumtif.

Mulailah investasi dan yang terpenting kamu harus mulai belajar tentang bagaimana mengelola dan mengatur uang. 

Meng-upgrade pengetahuan tentang literasi keuangan adalah hal yang harus dilakukan sejak usia muda. Jika tidak, kamu akan menyesal di akhir nanti.

Usia 30-40

Usia 30-40

Ketika memasuki usia 30 sampai dengan 40 tahun, kita akan bertemu dengan situasi yang sangat berbeda pada saat kita di usia 20 sampai dengan 30 tahun.

Di usia ini umumnya sebagian besar dari kita telah membangun sebuah keluarga, mulai menikah. Kemudian mulai menjalani hidup bersama dengan orang yang kita cintai, mulai diberi kesempatan untuk menjadi orang tua.

Kemudian kita mulai menjalani satu fase kehidupan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Di sini kita mulai berpikir untuk bagaimana mempunyai sebuah rumah, kendaraan atau bagaimana menciptakan satu situasi yang nyaman untuk keluarga kecil kita.

Oleh karena itu potensi kesalahan yang dihadapi juga berbeda, biasanya di usia ini kita mulai berpikir untuk bagaimana memiliki sebuah kendaraan atau tempat tinggal. Kadang cara yang ditempuh adalah berhutang.

Hutang untuk membeli rumah, hutang untuk membeli kendaraan adalah potensi yang akan dihadapi oleh mereka di usia 30 sampai 40 tahun ini. Kita harus bijak dalam membaca bagaimana kualitas dan kondisi finansial kita.

Jika tidak, hutang yang terpaksa kita ambil untuk membeli rumah dan mencicil kendaraan justru akan menjadi belenggu yang membuat secara finansial kita akan semakin sulit.

Jadi sebelum memutuskan untuk membeli rumah dengan kredit atau membeli mobil dengan kredit hati-hati. 

Pertimbangkan dengan sangat baik karena ini menjadi potensi kesalahan yang paling sering dialami oleh mereka di usia 30 sampai dengan 40 tahunan.

Kesalahan lain yang biasanya dilakukan oleh mereka di usia 30 sampai 40 tahun adalah mereka tidak memiliki dana darurat.

Ketika sudah menikah punya sebuah keluarga kita punya tanggungan anak dan istri. Ketika suatu saat ternyata income kita bermasalah, pekerjaan kita terhambat di sinilah dana darurat itu sangat penting.

Kadang pada usia 30 sampai 40 tahun mereka menganggap dana darurat itu tidak terlalu penting karena masih merasa produktif, masih merasa punya kemampuan untuk terus bekerja dan menghasilkan uang.

Padahal dana darurat itu sangat kita butuhkan andai kata situasi yang buruk terjadi, dengan adanya dana darurat minimal keluarga kita masih bisa bertahan hidup untuk beberapa bulan ke depan.

Kesalahan lain yang kadang dilakukan oleh mereka adalah tidak memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan padahal kedua hal itu sangat penting.

Bayangkan seperti ini: 

Katakanlah Pak Andi usia 35 tahun kemudian dia punya dua orang anak satu istri.  Ia masih sangat produktif dalam bekerja, kemudian karena suatu hal ia sakit dan akhirnya meninggal. Apa yang terjadi? 

Keluarga tersebut akan kehilangan Pak Andi, selain itu secara finansial keluarga tersebut sangat terganggu karena tulang punggungnya adalah Pak Rudi. 

Bagaimana nasib pendidikan kedua anaknya? Tentu saja patut dipertanyakan.

Kondisinya akan berbeda ketika Pak Andi punya asuransi jiwa. Ketika Tuhan berkehendak bahwa dia dipanggil oleh Sang Pencipta maka dia akan mendapatkan dana santunan dari asuransi jiwa.

Kemudian dana itulah yang nantinya akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, untuk menjamin pendidikan kedua anaknya.

Kesadaran ini kadang tidak dimiliki oleh sebagian besar orang, mereka merasa rugi ketika membeli asuransi jiwa. Mereka menganggap bahwa uang yang akan kita pakai untuk membayar asuransi jiwa itu tidak kembali.

Memang faktanya demikian, uang itu tidak kembali, tapi andai kata terjadi risiko, ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka asuransi itu akan sangat bermanfaat untuk melindungi keluarga.

Ketika sang pencari nafkah meninggal kemudian keluarga tersebut kehilangan baik secara fisik dan juga secara finansial, di titik inilah dana yang akan mereka dapatkan dari pihak asuransi akan sangat bermanfaat untuk menjamin kelangsungan hidup keluarga mereka.

Usia 40-50

Usia 40-50

Memasuki usia 40 situasinya berbeda, anak-anak sudah mulai besar dan biaya pendidikan sudah mulai meningkat. 

Di sisi lain karir semakin mapan, sementara mulai ada kejenuhan untuk belajar, merasa telah banyak belajar dan punya pengalaman yang cukup namun di sini blundernya.

Usia 40 adalah satu usia yang sangat menentukan apakah seseorang akan mampu terus bertumbuh atau sebaliknya, mengalami titik balik, mengalami penurunan. 

Terkadang beberapa kesalahan dilakukan oleh mereka di usia 40. Salah satunya mereka terfokus menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak namun lupa menyiapkan dana pensiun untuk masa depannya.

Menjadi tua dan akhirnya tidak produktif itu adalah sebuah kepastian! pada saatnya nanti kita tidak bisa bekerja itu juga sebuah kepastian. Maka di titik ini, di usia 40 saatnya kita juga berpikir tentang itu.

Menyiapkan dana pendidikan untuk anak memang penting, tapi menyiapkan dana pensiun itu juga jauh lebih penting.

Hal lain yang juga harus kita perhatikan adalah, hendaknya kita jangan melakukan spekulasi. Ketika kita ingin investasi di usia 40 mulailah berpikir untuk lebih moderat, mulai menghindari risiko yang terlalu besar.

Di usia ini kita harus mulai menjaga stabilitas finansial dan terus menumbuhkan secara perlahan tanpa harus mengambil risiko yang terlalu besar.

Ketika di usia 40 secara finansial memang bebannya lumayan tinggi, pendidikan anak meningkat sementara terkadang di usia ini kita punya tanggung jawab juga, menanggung beban orang tua kita.

Pada saat kita menjadi generasi sandwich dimana kita menanggung beban anak-anak kita sekaligus menanggung beban orang tua maka di titik ini kita harus benar-benar sangat berhati-hati jangan sampai berspekulasi karena jika kita salah melangkah yang dikorbankan terlalu banyak.

Usia 50-60

Usia 50-60

Memasuki usia 50 sampai 60 tahun di fase ini kita sudah benar-benar mendekati masa pensiun, kita harus benar-benar fokus untuk menjaga kesehatan mental kita, menyiapkan diri kita untuk menghadapi apa yang akan kita lakukan setelah kita selesai menapaki karir dan pekerjaan.

Di usia ini kita harus belajar untuk menyesuaikan gaya hidup, dari sisi finansial mungkin ketika kita menjadi pekerja gaji sudah mulai ada potensi penurunan. 

Kemudian sebentar lagi ketika pensiun kita punya potensi tidak lagi punya penghasilan sebesar dulu, pada titik inilah mulai berpikir apa yang harus saya lakukan di usia pensiun itu.

Ketika kita tidak serius merencanakan masa pensiun, pada titik inilah kesalahan besar itu sedang kita lakukan.

Orang-orang yang tidak serius dalam merencanakan apa yang akan mereka lakukan di masa pensiun punya potensi akan mengalami hal-hal sulit mulai dari sakit, kemudian mungkin secara finansial akan mengalami penurunan yang sangat drastis.

Banyak orang mengalami post power syndrome dimana mereka tidak siap untuk menyelesaikan karir dan tugas mereka akhirnya banyak orang jatuh sakit setelah mereka tidak lagi bekerja.

Hal lain yang juga harus diperhatikan di usia 50 sampai 60 tahun yaitu mulai mengubah gaya hidup kita. 

Ketika usia produktif mungkin gaya hidup kita luar biasa, pengeluaran kita besar, maka di titik ini kita harus mulai melakukan penyesuaian.

Pada saatnya nanti income kita mungkin akan turun sehingga gaya hidup kita juga harus kita sesuaikan.


Itulah pembahasan tentang potensi kesalahan finansial yang banyak dilakukan oleh orang berdasarkan usia. 

Ada baiknya kita berpikir jauh ke depan, berapapun usia kita hari ini tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki situasi dan kondisi finansial kita.